CERPEN


 
BAGAI PINANG DIBELAH DUA

Cerita ini terjadi kira-kira 12 tahun yang telah lalu.Waktu itu disaat usia kurang lebih masih berumur 25 tahunan,dimana usia tersebut sudah dikatakan usia produktif dan cukup matang serta dewasa untuk mencari pasangan hidup dan untuk segera membina rumah tangga. Memang betul yang dirasakan diusia tersebut kematangan dan kedewasaan diri mulai terasa dan begitu bergejolak. Dari kedewasaan yang bergejolak itulah hati dan diri mulai mendongkrak jiwa dan kejantanan seorang laki-laki tumbuh untuk segera mencari pasangan hidup. Bahkan nafsu dalam diri mulai merongrong pikiran ini, seraya dalam hati berkata: ”sudah saatnya saya mencari pasangan hidup untuk dijadikan istri karena saya sudah kerja dan berpenghasilan tetap serta mental lahir batin sudah siap untuk menikah dan membina rumah tangga. 

Suatu hari sepulang dari tempat kerja, tiba-tiba bertemu tanpa disengaja dengan teman saya

dipersimpangan jalan, lalu saya pun menepi ke pinggir jalan dan mematikan motor sesaat kemudian

menemui teman saya tersebut yang bernama Iwan. Seraya saya menyapa :” apa kabar kamu,Wan?”. Lalu

Iwan pun menjawab,”alhamdulillah aku baik-baik saja.” Tak terasa waktu sudah hampir 30 menit saya

dan dia ngobrol kesana-kemari, bincang-bincang hangat seputar masalah pasangan hidup. Kalau teman

saya sih sudah sudah punya pasangan bahkan akan segera menikah sekitar 2 bulanan lagi. Yang pastinya

diri saya iri dong mendengar dia akan segera menikah, apalagi saya sudah didahului oleh adik perempuan

menikah. Lalu teman saya bertanya seputar pasangan kepada saya,” kamu gimana sudah pasangan dan

kapan menikah “?. Mendengar pertanyaan tersebut terasa diri ini tersambar petir,

jelegeeeeeeeeeeeeeeeerrrrr..............!gosong hati dan pikiran ini,seraya menjawab dengan mulut terbata-

bata bilang ,: “sa..sa..ya be..be..be..lum punya pasangan”.(sambil menundukkan wajah dan wajah pun jadi

merah bagaikan pake blas on).

Bincang-bincang ringan pun berakhir dan sebelum dia teman saya pergi, dia menyodorkan secarik kertas

kepada saya seraya berkata :” nih, siapa tahu jodoh kamu ! Dikertas itu ada nomor telepon seorang

cewek,coba deh kamu hubungi dan berkenalan sama cewek itu mudah-mudahan cocok”.(sambil menepuk

pundak lalu pergi). Dan saya pun segera bergegas pulang karena waktu sudah mau maghrib dan yang

utamanya sudah tidak sabar ingin segera menghubungi nomor tersebut. Sesampainya di rumah, kemudian

terus pergi ke kamar mandi dan makan lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib.

Sebelum tidur saya mencoba membuka secarik kertas itu dan menuliskan nomor tersebut ke dalam kontak

hape saya. Lalu saya mencoba panggil untuk memastikan aktif atau tidaknya nomor tersebut. Dan alhasil

nomor itu benar aktif. Sepuluh menit kemudian yang punya nomor itu kirim SMS (sebelum ada whatsap)

kepada saya. Lalu dimulailah perbincangan lewat SMS mulai dari berkenalan, menanyakan alamat rumah

sampai kepada permasalahan pribadi. Singkat cerita, perkenalan dan komukasi pun terus berlanjut bahkan

sudah mulai akrab kenudian lanjut untuk janjian ketemuan. Ketemuan pertama kali sewaktu akan

berangkat ke tempat kerja dan saya pun menunggu didepan gerbang pabrik tempat kerja saya karena

sebelumnya sudah saling janji untuk ketemu dengan melihat plat nomor motor. Yang ditunggu pun telah

tiba, ketemuan selintas pun terjadi tapi membuat saya bingung mana cewek yang sms-an waktu itu karena

dalam motor itu ada dua cewek berboncengan. Lalu saya cukup dengan senyum saja dan melambaikan

tangan sebagai bentuk sapaan kepada cewek itu, walaupun diri saya masih bingung entah yang mana

cewek itu.

Kemudian ketemuan singkat itu berlalu dan pergi ke tempat kerja masing-masing. Seiring berjalannya

waktu dan sudah dirasa cukup akrab maka saya pun memberanikan diri bertanya kepada dia walau masih

lewat via sms, bahwa saya sedang mencari seorang pasangan untuk dijadikan seorang istri. Dan dia pun

sama sedang mencari pasangan untuk dijadikan suami. (dalam hati saya berkata:”alhamdulillah....mudah-

mudahan dia jodoh untuk saya”). Moment terindah pun terjadi disaat saya mencoba untuk

mengungkapkan perasaan rasa suka kepada dia.(ceritanya nembak). Dan tanpa diduga ternyata dia pun

mau menerima rasa suka saya itu dan endingnya saya dan dia jadian menjadi pasangan pacar.

Saat-saat indah pun dilalui selama kurang lebih tiga bulan menjalin hubungan dan saling kenal memahami

karakter dan sifat masing-masing. Maka saya pun dirasa cukup untuk penjajakan lewat pacaran lalu

memutuskan untuk segera melamarnya dan mendatangi orang tuanya. Alhamdulillah pucuk dicinta ulam

pun tiba, niat baik saya waktu itu diterima oleh orang tuanya. Dua minggu kemudian dipertemukanlah

masing-masing orang tua untuk membahas masalah waktu pernikahan dan ditentukanlah waktupernikahan yaitu bulan kesebelas.
Waktu yang ditunggu pun kini tibalah diacara pernikahan. Dalam hati bertanya:”akhirnya saya nikah
juga”. Saya dan istri meras sangat senang dan bahagia karena Allah telah mempertemukan dan
menjodohkan kami berdua menjadi pasangan suami-istri lewat secarik kertas yang dikasih teman saya
waktu itu dan alhamdulillah kini rumah tangga saya telah dikaruniai tiga anak cewek yang cantik-cantik
hasil buah cinta kami berdua. Namun diawal mengarungi bahtera rumah tangga ada kejadian yang
membuat saya malu. Kejadian itu berawal dari ketidaktahuan saya bahwa istri itu punya saudara kembar
yang dalam peribahasa “bagaikan pinang dibelah dua” betul-betul mirip banget. Waktu itu dikala saya
sedang mengerjakan sesuatu di rumah, maka datanglah saudara kembar istri saya memakai baju yang
sama dengan pada waktu itu dipakai istri. Anggapan saya dia adalah istri saya. Spontanitas karena mirip
maka dicubitlah pinggangnya dan serentak saya kaget ketika dia melirik dan dia berkata :” maaf saya ini
saudara kembarnya bukan istri anda”. Langsung saya meminta maaf kepada dia karena yang dicubit
bukan istri saya melainkan kembarannya. (sambil minta maaf wajah pun merah karena malu).
Sejak dari kejadian itu, maka saya harus bisa ekstra berhati-hati dan waspada apabila ketemu dengan
kembaran istri saya karena takut salah lagi. Dan saya pun berusaha untuk mencari perbedaan dari
keduanya supaya tidak salah sasaran lagi di kemudian hari. Sehingga alhamdulillah seiring berjalannya
waktu, maka keduanya bisa dibedakan mana istri saya dan mana saudara kembar istri saya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REINKARNASI ALGAR ( ALUN-ALUN GARUT )

BIODATA

Sebuah Pepatah